Wednesday, September 20, 2017

IHT biasanya di isi dengan pembahasan materi yang bersifat formal, hal berbeda dilakukan pada In House training kali ini yang berfokus pada training peningkatan kualitas kepribadian guru melalui Teacher Quality Improvement atau disingkat TQI dengan istruktur dari Titian Foundation. Sesuai dengan tema pelatihan yang berorientasi pada perbaikan kualitas kepribadian guru dalam mengajar. 






Selama ini yang penulis ketahui tentang pelatihan guru baik itu yang namanya IHT, workshop, Diklat maupun Bimbingan Teknis (Bimtek) baik tingkat lokal, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi maupun tingkat nasional biasanya hampir semuanya yang dibahas berupa materi bersifat rutin yang tidak jauh dengan segala urusan yang menyangkut teknis pekerjaan guru sehari-hari. 

Pekerjaan teknis yang diantaranya menyangkut penyusunan administrasi guru dari kajian silabus, penyusunan RPP, penyusunan kisi-kisi soal, pembuatan bahan ajar dan media pembelajaran atau kaitan dengan kegiatan MGMP.


Apa dan Siapa Titian Foundation?
Sebelum membahas apa itu pelatihan total quality improvement bersama Titian foundation. Kita coba cari tahu dahulu apa dan siapa Titian Foundation. Menurut informasi yang ada di website resmi titian foundation, yaitu id.titianfoundation.org : yayasan ini didirikan pada tahun 2006 oleh Lily kasoem, yayasan ini dikelola secara profesional oleh relawan dengan fokus membantu masyarakat Indonesia yang kurang beruntung melalui peningkatan pendidikan, pengetahuan dan keahlian. 

Yayasan ini dipimpin oleh Lyli Kasoem mantan CEO PT Lily kasoem optikal, dan salah satu anggota dewan pembina Titian Foundation yaitu Prof. Dr. Djamaludin Ancok, PhD. Yang merupakan Profesor psikologi di universitas Gunadarma dan beliau juga mengajar di fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Gajah Mada.

Training Hari Pertama : Komitmen Profesi

Di hari pertama pada sesi 1 ground rules peserta diminta membentuk kelompok yang terdiri dari 4 orang, keempat orang tersebut saling mencatat nama temannya, nama panggilan, hobi dan julukan masing-masing. Julukan muncul berdasarkan penilaian kebiasaan antar teman. Kemudian setelah batas waktu yang ditentukan habis salah seorang dari anggota kelompok maju kedepan mewakili tema-temannya  mempresentasikan di depan seluruh peserta hasil pengamatan antar anggota kelompok. 

Cukup kocak juga dalam sesi ini paparan meluncur dengan penuh keakraban dan canda. Makna dari sesi ini adalah untuk mengenali diri masing-masing dan mengenali temannya masing-masing, kalau pada keadaan normal ketika kerja hal itu sulit untuk dilakukan dan pasti ada rasa canggung. Hal ini membuahkan perasaan mendalam bahwa ternyata sebelum mengenali dan menilai orang lain perlu kiranya mengenali diri sendiri kemudian mengenali orang lain sehingga muncul perasaan saling menghargai dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan penilaian subyektif yang tidak berdasar.


Setelah coffe-break adalah sesi 2 dimana permaianan dengan menirukan cicak dan nyamuk, pada sesi ini semuanya berdiri membentuk lingkaran dengan tangan saling bertautan dimana tangan kiri di rentangkan ke kiri dengan teleunjuk berada diatas telapak tangan kanan temannya yang dalam keadaan terbuka. Semuannya dalam posisi yang sama sambil menyanyikan lagu cicak cicak di dinding, ketika syair lagu sampai kepada kalimat “... ada seekor nyamuk...” semua dalam keadaan siaga karena pas kalimat “..hap lalu di tangkap...” maka terjadi keriuhan karena tangan kiri menghidarkan tangkapan telapak tangan teman sebelah kiri, sementara tangan kanan berusaha menangkap jari telunjuk kiri temannya. Bagi yang tertangkap di suruh maju kedepan untuk memimpin menyanyikan lagu cicak di dinding dan apabila ada temannya yang tertangkap lagi, maka posisi tersebut di gantikan temannya tersebut. Makna dari sesi ini adalah bagaimana harus bisa mengelola kesempatan mengembangkan kreatifitas dengan baik.

Sesi ketiga adalah sesi memotivasi diri. Instruktur membagikan buah kentang dan sedotan plastik kepada setiap peserta. Instruksinya adalah menusuk kentang dengan sedotan minuman plastik sampai tembus. Peserta nampak antusias mencoba melobangi kentang dengan sedotan plastik tersebut dan akhirnya ada peserta yang berhasil menusukan sedotan sampai menembus kentang, disusul oleh peserta yang lainnya. 

Yang belum berhasil semakin semangat mencoba, bahkan ada beberapa peserta yang minta sedotan tambahan karena sedotan pertama sudah lembek tidak bisa digunakan. Yang lucu adalah yang belum berhasil menembus sepenuhnya karena mungkin prustasi maka menusukan sedotan diatas dan bawah yang nampak seolah-olah menembus kentang sepenuhnya. 


Coba bayangkan kentang yang kelihatannya keras dan nampak tidak mungkin ditembus sampai bolong oleh sedotan minuman plastik yang lembek tapi akhirnya bisa dilubangi dengan sempurna. Makna dari permainan ini adalah bahwa yang awalnya dianggap tidak mungkin ketika dicoba dengan sepenuh hati akhirnya bisa berhasil.


Sesi keempat merupakan sesi menjadi guru efektif. Sesi ini dimulai dengan narasi tentang cerita guru Thompson dan muridnya teddy. Guru perempuan yang bernama Ibu Thompson berjanji di hadapan seluruh murid kelas 5 bahwa dia akan memperlakukan seluruh muridnya dengan perlakuan yang sama adil. Pada hari pertama dia mengajar  di barisan depan ada seorang siswa yang duduk dengan seenaknya, siswa tersebut bernama Teddy. Ternyata Teddy tidak bisa bermain dengan baik atau tidak bisa bersosialisasi dengan siswa yang lain sebab baju yang dikenakannya nampak kumal dan kelihatan jarang mandi. Hal ini membuat Ibu guru Thompson memberikan tanda khusus di Rapor Teddy dengan tinta merah besar.

Ibu Thompson mengamati catatan murid-muridnya mulai saat kelas satu sampai kelas empat dan mengamati cacatan Teddy di giliran terakhir. Saat membaca catatan Teddy, Ibu Thompson sangat terkejut, karena dalam catatan tersebut ia mendapati hal-hal yang diluar perkiraannya. Catatan tersebut adalah sebagai berikut :


Menurut catatan Guru kelas satu, Teddy memiliki prestasi cemerlang. Teddy selalu mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik, ia juga selalu ceria sehingga sangat disukai teman-temanya

Menurut catatan Guru kelas dua, Teddy adalah murid yang sempurna sehingga disukai oleh seluruh temannya, namun mulai jarang sekolah karena ibunya sakit stroke..


Menurut catatan Guru kelas tiga, ketika ibunya meninggal, Teddy berusaha melakukan yang terbaik, namun ayahnya kurang mendukungnya sehingga dapat mempengaruhi  kehidupan Teddy selanjutnya.


Menurut catatan Guru kelas empat, Teddy menjadi kurang tertarik ke sekolah, tidak memiliki banyak teman dan terkadang tertidur ketika pembelajaran berlangsung.


Ibu Thompson baru menyadari masalah yang dihadapi Teddy dan dia merasa malu terhadap dirinya sendiri. Pada hari Natal murid-murid Ibu thompson memberikan hadiah dan tidak terkecuali Teddy, namun Hadiah dari Teddy nampak kumal dan dibungkus dengan kertas coklat. Ibu Thompson dengan terharu membuka kado Tedy ditengah-tengah kado yang lain. Anak-anak tertawa ketika melihat gelang batu yang beberapa batunya hilang, dan satu botol parfum yang isinya tinggal setengah. Ibu Thompson menyuruh murid-murid diam dan berkata bahwa gelang pemberian Teddy sangat indah sambil mengoleskan parfum pemberian Teddy di pergelangan tangannya.


Pada saat waktunya pulang sekolah, Teddy nampak belum juga pulang, selanjutnya Teddy berkata pada Ibu Thompson bahwa hari ini bau wangi Ibu Thompson seperti ibu saya. Setelah semua siswa pulang,  Ibu Thompson menangis hampir satu jam.


Setelah kejadian itu Ibu Thompson memberi perhatian khusus kapada Teddy, sehingga pada akhir tahun, Teddy menjadi anak terpandai di kelas, namun dalam hati ibu Thompson menyadari bahwa telah melanggar janjinya untuk memperlakukan murid sama adil.

Setelah Teddy lulus dari sekolah dasar, Teddy mengirim surat kepada Ibu Thompson yang isinya menyatakan bahwa ibu Thompson adalah guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidup Teddy.

Setelah menamatkan SMA, Teddy mengirimi surat kepada ibu Thompson yang isinya sam menyatakan bahwa ibu Thompson adalah guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidup Teddy.

Empat tahun berikutnya, ia menerima surat yang lain, mengatakan bahwa saat orang memikirkan banyak hal, ia tetap tinggal di sekolah dan mempertahankannya, dan segera lulus dari akademi dengan penghargaan tertinggi. Dia meyakinkan Ny.Thompson, bahwa dia tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidup Teddy.


Empat tahun kemudian datang lagi surat dari Teddy yang menyatakan dia telah lulus kuliah dan menjadi sarjana, dan bermaksud melanjutkan kembali kuliahnya ke jenjang yang lebih tinggi. 


Dalam surat tersebut Teddy menyatakan bahwa Ibu Thompson adalah guru yang paling dia suka dan paling baik yang pernah ada dalam sepanjang hidup Teddy.


Teddy mengirim surat lagi dan mengatakan bahwa ia bertemu dengan seorang gadis dan berencana untuk menikahi gadis tersebut. Teddy berharap Ibu Thompson menghadiri pernikahannya dan duduk di kursi yang biasanya disediakan untuk ibu pengantin sebab ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu.


Pada hari pernihan Teddy, Ibu Thompson memakai gelang batu yang beberapa batunya telah hilang dan memakai parfum yang selalu diingat Teddy ketika dipakai ibunya pada saat Natal ketika masih hidup.


Keduanya saling berpelukan, dan Dr. Teddy berbisik kepada Ibu guru Thompson, "Terima kasih Ibu Thompson telah mempercayai saya. Terima kasih karena Ibu telah membuat saya merasa begitu penting dan dapat mendorong saya membuat perubahan dalam diri saya sendiri."


Dengan berlinang air mata Ibu Thompson, Ibu Thompson berbisik, "... semua yang kamu katakan keliru. Sebenarnya kamu adalah orang yang telah mengajari bahwa aku dapat membuat perubahan. Aku sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana caranya mengajar sampai bertemu kamu."


Makna dari kisah ini adalah guru bisa memotivasi perubahan pada diri anak didiknya, dan harus mampu memperlakukan siswa-siswi nya dengan perlakuan yang adil.



Training Hari Kedua : Memahami Diri Dan Orang Lain, Serta Mengembangkan Kreativitas

Pada hari kedua training dimulai dengan instruktur meminta setiap perwakilan kelompok memberikan review tentang sesi kemarin. Kemudian dilanjutkan dengan sesi berikutnya dengan permainan kerang dan tiram. Dimana sang instruktur membacakan narasi dan ketika sampai pada ada ..kerang ...maka peserta


Sesi selanjutnya adalah peserta di minta membentuk empat barisan dengan panjang barisan sama panjang. Dari empat baris tersebut di bentuk menjadi dua kelompok yang setiap kelompoknya serdiri dari dua baris. Setiap kelompok di bawah komando seorang instruktur yang bertugas memperlihatkan catatan yang berisi 2 kata yang harus diperagakan oleh salah seorang peserta yang berdiri di barisan paling belakang. Ya permainannya seperti yang ada di acara tv “komunikata” dan permainan tersebut cukup mengasyikan juga. Makna dari sesi ini adalah perlunya menerjemahkan sebuah instruksi atau pesan dengan baik dan cerdas sehingga kalau instruksi atau pesan tersebut disampaikan kepada orang lain tidak terjadi distorsi atau bias.

Sesi pandangan terhadap orang lain dan siswa, peserta diminta membentuk kelompok yang anggotanya terdiri dari 4 orang, selanjutnya instruktur memberikan satu paket kartu yang didalamnya ada 4 buah kartu dengan nama masing masing kartu adalah kartu matahari, rumput, api, dan langit. Peserta di persilakan memberikan tanda ceklist pada lembar pilihan yang disediakan sesuai dengan pilihan yang ada pada kartu. Pada lembar pilihan apabila sesuai beri tanda chcklist, jika tidak beri tanda titik atau kosongkan.


Selanjutnya masih menggunakan empat kartu tersebut namun yang melakukan penilaian adalah teman, penilaian dilakukan secara silang berpasangan.

Sesi terakhir pada hari kedua ini sesi kreatifitas II yaitu bagaimana menciptakan lingkungan kreatif. Seluruh peserta diminta membentuk kelompok dengan anggota tiap kelompok terdiri dari delapan orang. Setiap orang dalam kelompok tersebut diminta menyumbang tiga kata depan, tiga kata sifat, tiga kata kerja.setelah terkumpul dari semua kata tersebut dijadiakan puisi. 

Setiap kelompok terlihat sangat kompak dan kreatif membuat puisi dari pembendaharaan kata kata yang dikumpulkan dari tiap-tiap anggota. Mulai dari judul sampai dengan isi puisi terasa begitu unik, kadang nyeleneh, dan cukup kreatif. Setelah selesai setiap kelompok diwakili oleh pembaca puisi dan peraga mempresentasikannya. Suasana penuh dengan kekaguman dan gelak tawa karena kelucuan tercipta dengan sendirinya tanpa dibuat-buat. 

Makna dari sesi ini adalah guru dituntut bisa kreatif memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada untuk bisa membina suasana kelas dalam keadaan kondusif dan nyaman untuk siswa belajar.

Training Hari Ketiga : Memahami Keragaman


Hari ketiga yang merupakan hari terakhir semua kegiatan dilaksanakan outdoor, semua peserta berbaris dilapangan dan sesuai instruksi membentuk lingkaran dan berhitung dari satu sampai empat. Kemudian membentuk barisan sesuai angka yang disebutkan pada saat dalam lingkaran, yang menyebut angka satu bergabung membentuk barisan dengan semua peserta yang menyebut angka satu. Begitupun dengan yang menyebut angka 2, 3 dan empat sehingga terbentuk menjadi empat barisan. 

Permainan sesi 1 ini adalah memindahkan bola tenis dari peserta yang berdiri dibaris terdepan sampai kepada peserta pada baris yang belakang. Cara memindahkan bola bukan menggunakan tangan melainkan menggunakan leher atau dagu dan bahu. Cukup kocak juga pemrmainan memindahkan bola dengan dagu dan bahu ini karena diperlukan konsentrasi penuh dan kerjasama dari kedua peserta yang sedang memeindahkan bola tenis. 

Makna dari aktivitas ini adalah bahwa sesuatu kegiatan yang tidak mungkin dilaksanakan tetapi dengan konsentrasi dan kerjasama yang total akhirnya pekerjaan yang sulit dan mungkin dirasa mustahil dilaksanakan akhirnya dapat selesai dengan baik. Cara memahami keragaman melalui permainan ini tercipta keakraban dan kerjasama yang sebelumnya kemungkinan belum tearcipta antar peserta dengan sebab perbedaan latar belakang, cara pandang dan usia.


Sesi selanjutnya sesi mengelola keragaman melalui permainan catur jawa, dalam sesi permainan catur jawa terdiri dari 6 kelompok. Dalam permainan ini adalah kuncinya adalah dituntut kerjasama dan penerapan strategi yang cerdas sehingga mampu memenangkan permainan.

Sesi terakhir adalah pementasan sosio drama dengan pemeran seluruh peserta pelatihan. Peserta dibagi enam kelompok sesuai dengan kelompok pada saat permainan catur jawa dan diberi waktu selama 30 menit untuk membuat skenario dan latihan pementasan sosio drama tersebut. Setiap peserta masuk ruangan berbeda untuk berembug mempersiapkan tema, berbagi peran dan berlatih.


Akhirnya tiba waktu untuk pementasan, supaya adil maka untuk penentuan urutan kelompok yang tampil ditentukan melalui pengundian.


Pada saat penampilan setiap kelompok, 5 kelompok menampilkan sosio drama tentang situasi pada saat proses belajar, dan satu kelompok menampilkan tentang tema ice breaking. Salah satu kelompok yang memilih sosio drama dengan tema situasi pada saat proses belajar menampilkan parodi tentang bagaimana seorang siswa yang pada masa sekolah dasar terkenal badung, namun ketika sudah dewasa dia berhasil menjadi guru teladan. Dia mengajar mata pelajaran yang dulu sewaktu sekolah dasar notabene merupakan mata pelajaran yang dia tidak sukai. 


Makna dari sini adalah jangan underestimated atau memandang  rendah siswa yang seperti di gambarkan di sosio drama tersebut atau di cerita tentang Ibu Thompson dan Dr. Teddy, sebab mereka memiliki perilaku tersebut ada faktor penyebabnya. Tugas pengajar adalh mencari tahu penyebab anak didik berbuat atau berperilaku seperti itu,  dan mencoba mngarahkan dengan memberi motivasi perubahan ke arah yang lebih baik.


Tidak terasa kegiatan pelatihan telah usai, semua kegiatan telah dilaksanakan sesuai jadwal walau hanya 3 hari tapi cukup menyenangkan dan menambah wawasan yang akan dijadikan bekal membina peserta didik di dalam kelas. Pelatihan ini seharusmya dilakukan selama 10 hari kalau ingin semua nya sesuai dengan kurikulum Teacher Quality Improvement namun karena keterbatasan waktu hanya bisa dilaksanakan 3 hari. 

Bisa dibayangkan kalau dilaksanakan sepuluh hari berarti peserta didik tidak belajar di dalam kelas selama 10 hari. Sebenarnya pada saat guru selama tiga hari melaksanakan Pelatihan Teacher Quality Improvement, sementara peserta didik ditugaskan untuk melakukan observasi ke lapangan.

Apa Yang Diperoleh Selama In House Training Teacher Quality Improvement?

Tidak seperti ketika mengikuti pelatihan yang bersifat teknis dan rutin biasanya perasaan ngantuk dan jenuh sering hinggap, tetapi pada pelatihan kali ini mulai dari sesi awal sampai sesi akhir hampir selalu dalam suasana perasaan enjoy alias menyenangkan. Jadi makna dari pelatihan TQI ini adalah bagaimana membuat peserta didik ketika proses belajar berlangsung merasakan suasana yang menyenangkan dan  tertantang untuk mempelajari lebih dalam materi pelajaran yang sedang dipelajari.


Hal tersebut diatas bisa terlaksana sesuai harapan apabila sang guru sudah mengenal, memahami dan mampu mengelola dirinya sendiri  sehingga keragaman peserta didik bisa merupakan aset untuk di manage sesuai amanat kurikulum yaitu membentuk manusia seutuhnya.

Reaksi:

1 comment:

  1. Di daerah pemerataan pendidikan dan tenaga pendidik masih jauh dari kata baik. Masih banyak ketimpangan tapi dibiarkan

    ReplyDelete

Media Sosial

Terjemahan

Total Pageviews

Dudu. Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Ikuti Dengan Email